18 November 2010

Pesan Natal KWI - PGI 2010

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
TAHUN 2010

"Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia"
(bdk. Yoh. 1:9)


Saudara-saudari yang terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
1. Pada saat ini kita semua sedang berada di dalam suasana merayakan kedatangan Dia, yang mengatakan: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup"1. Dalam merenungkan peristiwa ini, rasul Yohanes dengan tepat mengungkapkan: "Terang yang sesungguhnya itu sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya"2. Suasana yang sama juga meliputi perayaan Natal kita yang terjalin dan dikemas untuk merenungkan harapan itu dengan tema: "Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dunia".
2. Saudara-saudari terkasih,
Kita bersyukur boleh hidup dalam suatu negara yang secara konsti-tusional menjamin kebebasan beragama. Namun akhir-akhir ini gejala-gejala kekerasan atas nama agama semakin tampak dan mengancam ke-rukunan hidup beragama dalam masyarakat. Hal ini mencemaskan pihak-pihak yang mengalami perlakuan yang tidak wajar dalam masyarakat kita. Kita semakin merasa risau akan perkembangan "peradaban" yang mengarus-utamakan jumlah penganut agama; "peradaban" yang memenangkan mereka yang bersuara keras berhadapan dengan mereka tidak memiliki kesempatan bersuara; "peradaban" yang memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan. Peradaban yang sedemikian itu pada gilirannya akan menimbulkan perselisihan, kebencian dan balas-dendam: suatu peradaban yang membuahkan budaya kematian dari pada budaya cinta yang menghidupkan.
Keadaan yang juga mencemaskan kita adalah kehadiran para penang-gungjawab publik yang tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan rakyat kebanyakan. Para penanggungjawab publik memperlihatkan kiner-ja dan moralitas yang cenderung merugikan kesejahteraan bersama. So-rotan media massa terhadap kinerja penanggungjawab publik yang kurang peka terhadap kepentingan masyarakat, khususnya yang terung-kap dengan praktek korupsi dan mafia hukum hampir di segala segi kehidupan berbangsa, sungguh-sungguh memilukan dan sangat mempri-hatinkan, karena itu adalah kejahatan sosial.
Kenyataan ini yang berlawanan dengan keadaan masyarakat yang sema-kin jauh dari sejahtera, termasuk sulitnya lapangan kerja, semakin mem-perparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor murni alami maupun karena dampak campur-tangan kesalahan manusiawi, terutama dalam penanganan dan penanggulangannya. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu.
Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus menjelma menjadi ma-nusia, sudah datang ke dalam dunia. Walaupun banyak orang menolak Terang itu, namun Terang yang sesungguhnya ini membawa pengha-rapan sejati bagi umat manusia. Di tengah kegelapan, Terang itu me-numbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun. Terang itu membawa Roh yang memerdekakan kita dari pelbagai kege-lapan, sebagaimana dikatakan oleh Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang"3.
Natal adalah tindakan nyata Allah untuk mempersatukan kembali di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya4. Semua yang dilihat-Nya baik adanya itu5, yang telah dirusakkan dan diceraiberaikan oleh kejahatan manusia, menemukan dirinya di dalam Terang itu. Oleh karena itu, dengan menyambut dan merayakan Natal sebaik-baiknya, kita menerima kembali, „Ÿ dan demikian juga menya-tukan diri kita dengan „Ÿ karya penyelamatan Allah yang baik bagi semua orang.
Di dalam merayakan Natal sekarang ini, kita semua kembali diingatkan, bahwa Terang sejati itu sedang datang dan sungguh-sungguh ada di da-lam kehidupan kita. Terang itu, Yesus Kristus, berkarya dan membuka wawasan baru bagi kesejahteraan umat manusia serta keutuhan ciptaan. Inilah semangat yang selayaknya menjiwai kita sendiri serta suasana di mana kita sekarang sedang menjalani pergumulan hidup ini.
3. Saudara-saudari terkasih,
Peristiwa Natal membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan kesejahteraan semua orang. Kita juga dipanggil dan diutus untuk menjadi terang yang membawa pengharapan, dan terus bersama-sama mencari serta menemukan cara-cara yang efektif dan manusiawi untuk memperjuangkan kesejahteraan ber-sama.

* Bersama Rasul Paulus, kami mengajak seluruh umat kristiani di tanah air tercinta ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan"6, karena dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sendirilah yang dikalahkannya.
* Selanjutnya kita wajib ikut-serta mewujudkan masyarakat yang sejah-tera, adil dan makmur, bahkan melalui usaha-usaha kecil tetapi konkrit seperti menjalin hubungan baik dengan sesama warga masyarakat demi kesejahteraan bersama. Kita turut menjaga dan memelihara serta melestarikan lingkungan alam ciptaan, antara lain dengan menanam pohon dan mengelola pertanian selaras alam, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan; mempergunakan air dan listrik seperlunya, mempergunakan alat-alat rumahtangga yang ramah lingkungan.
* Dalam situasi bencana seperti sekarang ini kita melibatkan diri secara proaktif dalam pelbagai gerakan solidaritas dan kepedulian sosial bagi para korban, baik yang diprakarsai gereja, masyarakat maupun pemerintah.
* Marilah kita memantapkan penghayatan keberimanan kristiani kita, terutama secara batiniah, sambil menghindarkan praktik-praktik iba-dat keagamaan kita secara lahiriah, semu dan dangkal. Hidup beragama yang sejati bukan hanya praktik-praktik lahiriah yang ditetap-kan oleh lembaga keagamaan, melainkan berpangkal pada hubungan yang erat dan mesra dengan Allah secara pribadi.

Akhirnya, marilah kita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya dalam kesederhanaan dan kesahajaan penyembah-penyembah-Nya yang pertama, yakni para gembala di padang Efrata, tanpa jatuh ke dalam perayaan gegap-gempita yang lahiriah saja. Marilah kita percaya kepada Terang itu yang sudah bermukim di antara kita, supaya kita menjadi anak-anak Terang7.[1]Dengan demikian perayaan Natal menjadi kesempatan mulia bagi kita untuk membangkitkan dan menggerakkan peradaban kasih sebagai tanda penerimaan akan Terang itu dalam lingkungan kita masing-masing. Dengan pemikiran serta ungkapan hati itu, kami mengucapkan:


SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011



Jakarta, 12 November 2010

Atas nama



PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI),
Ketua Umum : Pdt. Dr. A.A. Yewangoe
Sekretaris Umum: Pdt. Gomar Gultom, M.Th.

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),
Ketua: Mgr. M.D. Situmorang OFMCap.
Sekretaris Jenderal: Mgr. J.M. Pujasumarta

13 November 2010

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan……..”

“Nduk…mo kemana?” “mau ke gereja, mbok!” sahut Gendhuk yang sudah begitu biasa dengan pertanyaan simboknya setiap kali ia akan pergi. “Ke gereja? Ini hari apa??? Emang hari minggu koq ke gereja???”timpal simboknya mulai naik amarah. “Hmm…anu, mbok! Ada pertemuan di gereja!” jawab Gendhuk mulai takut. “Pertemuan-pertemuan terus!!! Ra usaaah!!!! Ra ana gunane!!! Nang ngomah wae sinauuuu!!!!” Dengan lemas, akhirnya Gendhuk mengurungkan niatnya untuk bersama teman-temannya latihan untuk persiapan pekan suci.

13 Januari 2009

Pekan Doa Sedunia 2009 untuk persatuan umat kristiani

PEKAN DOA SEDUNIA 
UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI
(18-25 Januari 2009)

Tema pekan doa sedunia 2009 ini adalah diambil dari pengalaman hidup menggereja di Korea dan juga didasarkan pada pengalaman nabi Yehezkiel dalam kitabnya (Yeh 37:15-28). Pekan doa sedunia ini diharapkan menjadi doa-doa seluruh umat kristiani guna semakin tercapainya kesatuan seluruh umat yang beriman kepada Yesus Kristus. Tema tahun 2009 ini adalah “Semoga mereka menjadi satu dalam tangan Tuhan” (bdk Yeh 37:17). 
1. Hari ke-1 (tanggal 18 Januari 2009)
  Tema: Umat Kristiani berhadapan dengan keretakan-keretakan lama dan baru
  Bac : Yeh 37:15-19.22-24a; 1Kor 3:3-7.21-23; Yoh 17:17-21
  Doa : Allah Bapa yang maharahim, kerahiman dan pengam-punanMu sungguh sempurna dalam diri Yesus Kristus. Karuniakanlah kerahimanmu kepada kami, yang berkarya dan berdoa untuk kesatuan umat kristiani yang terpecah-pecah. Bimbinglah kami agar dapat semakin menjadi saudara di dalam cinta kasihMu. Semoga kami menjadi satu di dalam tanganMu. Amin
2.Hari ke-2 (tanggal 19 Januari 2009)
 Tema: Umat Kristiani berhadapan dengan peperangan dan kekerasan.
 Bac : Yes 2:1-4; 1Ptr 2:21-25; Mat 5:38-48
 Doa : Ya Allah Bapa yang penuh kasih. Engkau telah mengutus PuteraMu untuk menyatukan umat manusia di dalam SalibNya. Kami persembahkan kepadaMu keadaan manusiawi kami yang telah dirusakkan oleh egoisme, arogansi, kesombongan dan kemarahan. Kami mohon, jangan biarkan kuasa-kuasa kegelapan yang menumbuhkan kekerasan, peperangan, kebencian, kesombongan dan konflik ideology merajalela. Lindungilah kami dengan belaskasihMu dan peliharalah agar kami bersama dengan semua orang yang berkehendak baik mampu menciptakan damai dan kebahagiaan yang utuh untuk semua ciptaanMu. Semoga, seluruh umat Kristiani mampu bekerjasama untuk membawa keadilan, kebenaran, cintakasih dan perdamaian. Berilah kami keberanian untuk member berkat kepada mereka yang menganiaya kami, dan membalas penuh cintakasih kepada mereka yang memusuhi kami. Amin
3. Hari ke-3 (tanggal 20 Januari 2009)
 Tema: Umat Kristiani berhadapan dengan kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi
 Bac : Im 25:8-14; 1Tim 6:9-19; Luk 4:16-21
 Doa : Allah yang mahaadil. Engkau menciptakan bumi seisinya dengan berlimpah makanan. Namun, sebagian dari umatMu masih mengalami kemiskinan, kelaparan dan penderitaan. Karena kekerasan dan peperangan, karena bencana dan ketidakadilan, banyak umatMu yang menjadi korban dan harus berdiam di pengungsian. Ya Allah yang penuh kasih, bantulah kami untuk memahami bahwa makanan bukanlah uang melainkan sabdaMu sendiri. Ajarilah kami untuk hidup bukan dari makanan duniawi semata melainkan dari setiap ajaran dan perintah-perintahMu yang kami hidupi dalam peziarahan kami. Amin
4. Hari ke-4 (tanggal 21 Januari 2009)
 Tema : Umat Kristiani berhadapan dengan Krisis ekologi.
 Bac : Kej 1:31 – 2:3; Rm 8:18-23; Mat 13:31-32
 Doa : Allah Bapa Pencipta Semesta, alam ini Engkau yang menciptakan dan Engkau melihat sungguh amat baik. Namun, hari ini kami, manusia melestarikan budaya kematian dan merusak alam ciptaanMu. Bimbinglah kami untuk melestarikan budaya kehidupan agar dapat memelihara keutuhan ciptaanMu terlebih alam ciptaanMu. Amin
5. Hari ke-5 (22 Januari 2009)
 Tema : Umat Kristiani berhadapan dengan diskriminasi dan ketidakadilan social
 Bac : Yes 58: 6-12; Gal 3: 26-29; Luk 18: 9-14
 Doa : Allah Bapa yang mahakasih, bantulah kami untuk menyadari bahwa ketidakadilan dan ketertutupan dapat merusak paguyuban. Bimbinglah kami untuk mengenali kecenderungan-kecenderungan negative kami agar kami dapat membangun paguyuban hidup yang semakin dipenuhi cinta kasih. Semoga, kami semakin mampu mengembangkan kehidupan bersama yang membaha-giakan. Amin
6. Hari ke-6 (23 Januari 2009)
 Tema : Umat Kristiani berhadapan dengan aneka penyakit dan penderitaan.
 Bac : 2Raj 20:1-6; Yak 5:3-11; Mrk 10:46-52
 Doa : Ya Bapa, dengarkanlah umatMu yang berseru kepadaMu dalam penderitaan dan kesusahan mereka. Semoga, kami yang Engkau beri kesehatan senantiasa bersyukur dan mampu melayani mereka yang sedang menderita dan sakit dengan penuh cintakasih dan tangan terbuka. Semoga dengan demikian, Engkau menganugerahi kesehatan lahir dan batin, jiwa dan raga bagi semua orang agar dapat membangun kehidupan yang semakin baik dan bersama-sama memuliakan namaMu. Amin
7. Hari ke-7 (24 Januari 2009)
 Tema : Umat Kristiani berhadapan dengan kemajemukan agama.
 Bac : Yes 25:6-9; Rm 2:12-16; Mrk 7:24-30
 Doa : Ya Allah Bapa kami, syukur atas kebijaksanaan yang Engkau anugerahkan melalui SabdaMu. Bimbinglah kami untuk mampu membuka hati dan akal budi kami terhadap umat yang berbeda keyakinan dengan kami. Bantulah kami untuk mengatasi penghalang yang memecah-mecahkan kami, kecurigaan dan kebencian. Sertailah kami senantiasa untuk mengarahkan diri pada hari penghakiman dimana kami semua berarak mengikuti pesta perjamuanMu dalam kasih mesra. Amin
8. Hari ke-8 (25 Januari 2009)
 Tema : Umat Kristiani mewartakan pengharapan dalam dunia yang terpecah belah.
 Bac : Yeh 37:1-14; Why 21:1-5a; Mat 5:1-12
 Doa : Allah Bapa yang mahakasih, Engkau senantiasa menyertai kami, baik disaat suka maupun duka kehidupan kami, hingga akhir jaman. Bantulah kami menjadi manusia yang penuh pengharapan, membangun sikap hidup yang mengarah pada kekudusan, serta melayani sesama dan alam ciptaanMu demi keutuhan dan kesatuan seperti yang Engkau kehendaki. Amin

08 Desember 2008

masuk usia angka 3

PUNAKAWAN 
PESTA ULANG TAHUN GARENG

Sudah ditetapkan tanggalnya yaitu 09 Desember 2008 Keluarga Panakawan mau merayakan pesta ulangtahun Gareng. Sebagai langkah awal, satu keluarga: Semar, Petruk dan Bagong, juga Gareng saling berembug untuk mempersiapkan pestanya.
Semar : anak-anakku, mungkin kalian punya usul untuk pesta ulang tahun adik kalian…Gareng?
Bagong : Gini..pak!, gimana kalo….kita nanggap wayang wahyu ala cah enom. Dusun kita khan punya kelompok wayang, kebetulan juga ini khan tahun kaum muda..diberdayakan aza! (sambil bicara kayak orang gaul…)
Nampaknya mereka langsung setuju usulan Bagong (hebat juga usulnya!)
Semar : nGGer..anakku Gareng sing bagus.. dhewe! kira-kira sapa yg mau kita undang!
Gareng : Mmm…….bingung lah, Pak. Kula manut mawon! 
Petruk : nggg…..anu pak!…semua warga dusun! Biar hebohhhh dan meriah kayak pesta hari Rabo kemarin itu! And kita bisa menunjukkan kalo kita kaya….raya! (begitu Petruk berkata dengan semangatnya).
Semar : jangan gitu ‘truk….kita semua khan lagi krisis….masa’ mau pesta besar-besaran…. yang sederhana aja donk….solider..solider… !!!!
Petruk : nggak gitu pak…biar kerennnnn!
Akhirnya diputuskan sepihak, pesta dibuat meriah hingga anggarannya habis jutaan rupiah. Selang sehari kemudian, Sedewa yang mendengar mau ada gawe di rumah Semar, tanya ke tetangga, tapi nggak ada jawaban memuaskan… semuanya, “mboh…ya”. Akhirnya..dia tanya kepada Petruk.
Sedewa : Bener ya Truk, bapakmu punya gawe???
Petruk : ’tul mas! Meriah lagi (…coba kalo merah..lebih meriah he…!)
Sedewa : Petruk..petruk..kenapa mesti meriah…kita semua lagi krisis, larang sandhang pangan, banyak bencana, teror dan lain-lain. Koq ya masih dengan bangga pesta meriah…mbok ya yang sederhana saja.
Petruk : ya mboh…mas. Itu khan usulnya Bagong.
Lantas Sedewa kebetulan bertemu dengan Bagong, kemudian bertanya kepadanya.
Sedewa : ‘Gong….kamu ya yang ngusulken pesta meriah ini, ya?
Gareng : ah…nggak tuch, siapa yang bilang. Petruk yang usul begitu!
Ah..gimana anak-anak ini, koq saling tuding dan tuduh…apa nggak isa rendah hati dikit apa! (guman Sedewa). Hari yang ditetapkan tibalah sudah. Tetapi, ternyata..yang bekerja hanya Gareng dan bagong…sedangkan Petruk malah..hanya surah-suruh aza! Bagong dan Gareng sampe kelelahan bekerja, lari ke sana ke mari mempersiapkan segala-sesuatunya.”Huh….menyebalkan!” guman Gareng dan Bagong.

20 November 2008

TALENTA

Edisi: Minggu Biasa XXXIII No: 29/XI/2008
   
Mat 25:14-30: Hari Penghakiman

Perumpamaan mengenai talenta dalam Mat 25:14-30 berawal dengan kisah tentang orang yang mempercayakan hartanya kepada para hambanya karena ia akan lama bepergian ke luar negeri. Dan jumlah uang yang ditinggalkannya itu amat besar. Satu talenta nilainya 10.000 dinar dan satu dinar itu waktu itu upah sehari pekerja harian. Apabila mau dibandingkan dengan upah sehari kabupaten Sukoharjo, misalnya. Upah sehari setara dengan Rp 21.400,- Ini berarti satu talenta setara dengan Rp 214.000.000,- jumlah yang tidak sedikit, bukan?
Pendengar waktu itu langsung menangkap arah perumpamaan ini, yakni kepercayaan yang luar biasa besarnya dari pihak pemilik kepada para hambanya. Dan memang perumpamaan ini lebih bercerita mengenai sang pemberi daripada mengenai mereka yang menerima. Dari 16 ayat dalam petikan ini, 10 ayat dipakai untuk menggambarkan tindakan serta kata-kata sang tuan dan hanya 6 ayat dikhususkan bagi hamba-hambanya.
Orang itu mempercayakan miliknya kepada tiga orang hambanya. Ia mengenal kemampuan mereka satu persatu dengan baik. Injil mengutarakannya dengan ungkapan "...masing-masing menurut kesanggupannya." Begitulah pemilik tadi merasa aman dapat menitipkan hartanya kepada orang-orang yang dekat yang sungguh dikenalnya. Ia percaya mereka akan menjaganya dengan sebaik-baiknya dan mau menjalankan uangnya. Ia berharap akan tetap beruntung, di luar negeri dan di tanah sendiri. Perusahaannya akan tetap berjalan.

Tajuk Pepadhang:

B.E.R.A.N.I B.E.R.U.B.A.H….
B.E.R.A.N.I B.E.R.B.U.A.H…..!!!!

Perumpamaan yang disampaikan Yesus pada hari minggu ini memuat ajakan agar orang berani memikirkan kembali anggapan mengenai siapa itu Tuhan dan bagaimana mendapat perkenannya. Dan kiranya memang itulah maksud Yesus dengan perumpamaan tersebut. Maklum bagi pendengarnya pada waktu itu Tuhan Allah dialami sebagai yang menuntut dan akan murka dan menghukum bila umatnya tidak menuruti hukum-hukumNya. Itulah teologi yang dulu dirasa jitu di kalangan para pemimpin (ahli Taurat, para imam) dan orang-orang yang dianggap benar dan menganggap diri benar (kaum Farisi). Tuhan tidak mendapat ruang untuk tampil dengan wajah kebapaan. Dia dikurung dalam teologi picik hamba yang mendapat satu talenta itu.
Tahukah orang yang akan bepergian ke luar negeri itu bahwa di antara hambanya yang dipercayainya itu ada yang tidak bakal banyak berbuat? Tentunya ya. Walaupun demikian, ia tetap berharap hambanya itu bisa berkembang. Dan tuan tadi - kini bisa kita pakai untuk mengerti siapa Tuhan sebenarnya - berani mengambil risiko. Siapa tahu hamba yang begitu itu nanti berubah. Tuhan berani memberi kesempatan kepada orang yang sebenarnya dikenal tidak akan berbuat banyak. Maukah kita juga berubah….berubah untuk menghasilkan buah?
Kita diberi talenta…setiap orang dianugerahi kelebihan, kekuatan, kekurangan dan kelemahan. Dan Tuhan tahu semua tentang kita….persoalannya tinggal satu: apakah kita mau menjadi dua hamba yang mengusahakan talenta itu hingga menghasilkan buah ataukah kita menjadi seorang hamba yang hanya akan menyimpan talenta itu dan tidak mau mengembangkannya? Berkah Dalem.

Inspirasi Pepadhang:

HARTA WARISAN

  Dua bersaudara dari keluarga yang berkecukupan. Setelah kematian kedua orang tuanya, mereka kini harus membagi harta warisan yang ditinggalkan. Namun setelah harta tersebut dibagikan, kedua bersaudara ini tidak pernah hidup rukun dan damai. Sang kakak menuding bahwa adiknya mewarisi lebih banyak dari yang dimilikinya. Sang adik juga menuding hal yang sama terhadap kakaknya, bahwa sang kakak memiliki harta warisan lebih banyak dari yang diwarisinya. Keduanya saling menuding bahwa pembagian harta tersebut tidaklah adil dan seimbang. 
  Mereka sudah melewati berbagai proses hukum, namun tetap saja persoalan mereka tak dapat diatasi secara memuaskan. Semua nasihat tak pernah berhasil. Semua keputusan seakan tawar. Keduanya tak dapat menerima semua nasihat dan keputusan yang diberikan. Setelah mencari dan mencari akhirnya mereka menemukan seorang guru yang bijak. Kedua bersaudara tersebut datang ke hadapannya denganharapan bahwa duri yang selama ini menusuk daging dan menghancurkan hubungan persaudaraan mereka dapat dikeluarkan. 
  Sang bijak bertanya kepada sang kakak; "Anda yakin bahwa harta yang dimiliki adikmu melebihi warisan yang engkau terima?" Sang kakak dengan penuh yakin menjawab; "Sungguh demikian!" Sang bijak lalu berpaling kepada sang adik dan mengulangi pertanyaan yang sama; "Anda yakin bahwa kakakmu mewarisi harta peninggalan orang tua lebih dari pada yang anda peroleh?" Dengan keyakinan yang sama sang adik menjawab; "Ya demikianlah!" 
  Sang bijak lalu memberikan sebuah perintah kepada keduanya; "Kumpulkan semua harta yang telah diterima masing-masing dan serahkan itu kepada yang lain." Sang kakak menyerahkan semua harta warisan yang diperolehnya kepada adiknya, demikian pula sang adik menyerahkan harta warisan yang diperolehnya kepada sang kakak. Dan sejak itu tak ada lagi pertentangan karena harta warisan di antara mereka berdua. 
----------------------------------------------------
Kita senantiasa mengira bahwa nasib orang lain selalu lebih baik dari diri sendiri, bahwa orang lain lebih diberkati Tuhan dari pada diri kita sendiri. Kita lupa bahwa Tuhan mencintai setiap insan dengan cinta yang sama. Kita mungkin hanya mampu melihat berkat yang kelihatan yang dimiliki orang lain, namun lupa untuk melihat berkat-berkat berlimpah yang diberikan Tuhan atas diri kita namun sulit dilihat oleh kasat mata. Lihatlah dirimu dari sudut pandangan yang lain, maka anda akan dipenuhi keharuan dan rasa syukur yang mendalam. Tuhan mencintaimu!

Mutiara pepadhang minggu ini:

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.



19 November 2008

MENJADI LEKTOR

Menjadi Lektor: Membawakan Sabda Tuhan
a. Peranan
•Petugas resmi: dalam liturgi, lektor merupakan petugas resmi yang melaksanakan tugas tertentu, yakni membacakan sabda Tuhan agar didengarkan oleh seluruh umat yang hadir. Ciri “resmi” itu dapat dilihat dari: tempatnya yang tertentu yakni di mimbar sabda, waktunya yang tertentu, dan bahan bacaan yang pasti. Mengingat tugasnya yang penting, maka lektor semestinya dipilih dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. 
• Sejarah: sebelum Konsili Vatikan II peran lektor hanya dijalankan oleh orang-orang yang dilantik saja. Pada umumnya mereka yang dilantik adalah para calon imam atau para biarawan sehingga pelantikan lektor tergolong dalam tahbisan tingkat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sejarah, peran lektor sangat dijunjung tinggi. Konsili Vatikan II membuka kemungkinan bagi umat awam untuk menjalankan peran ini.
• Kelompok Lektor: di banyak tempat peran lektor ini juga didukung dengan dikembangkannya kelompok lektor. Di dalam kelompok ini para lektor mendapat kesempatan untuk meningkatkan pengenalan mereka akan kitab suci yang selalu dibacakannya, sekaligus untuk berlatih meningkatkan ketrampilan. Kiranya ini merupakan contoh yang baik untuk dikembangkan, kelompok lektor sekaligus menjadi kelompok kitab suci.

b. Praktek Membacakan Kitab Suci
1) Bagaimana mendapatkan bahan bacaan?
(1) Melihat kalendarium liturgi dan setelah tahu masa liturginya baru mencari buku lektionarium yang bersangkutan (lihat daftar lectionarium di atas).
(2) Kalau tidak tersedia lektionarium, dari kalender liturgi langsung dicari perikope yang ditunjuk sesuai kitab, bab dan ayatnya.

2) Bagaimana membacakan kutipan dari lectionarium?
• Yang wajib dibacakan bagi umat adalah sumber bacaan, yaitu: Pembacaan diambil dari kitab Keluaran. Setelah itu langsung dibacakan bacaannya. Petunjuk bab dan ayat tidak begitu penting. Tulisan-tulisan yang lain sebenarnya adalah petunjuk bagi pembaca sendiri (Bacaan Pertama), atau petunjuk bagi pengkhotbah (pengantar yang dicetak miring, ayat singkat yang dicetak miring), jadi tidak perlu dibacakan untuk umat. 
• Kalaupun mau dibaca lengkap maka urutannya adalah: Bacaan Pertama – ayat cetak miring – Pembacaan diambil dari ….. – isi bacaan – Demikianlah Sabda Tuhan.
• Bila bacaan sudah tersedia pada teks misa, ketentuannya sama.

3) Bagaimana membacakan kutipan langsung dari Kitab Suci?
• Bila tidak ada lectionarium, bacaan harus dikutip langsung dari kitab suci. Untuk itu ada beberapa catatan khusus. (1) Wajib untuk menyebutkan sumber kutipan tersebut: “Pembacaan diambil dari ……..” (2) Bila awal kutipan tersebut tidak jelas konteksnya maka harus ditambahkan beberapa kata petunjuk secukupnya agar tidak lepas konteks. Misalnya: “Pada suatu hari Tuhan berfirman kepada……, 

4) Kelengkapan apa saja yang diperlukan seorang lektor?
Bahan bacaan, bisa berupa teks, buku lectionarium, atau kitab suci yang sudah dipersiapkan khusus 
(1) mimbar atau tempat pembacaan yang khusus
(2) pakaian yang pantas atau malah khusus, biasanya juga ditambahkan sebuah samir sesuai warna liturgi 
(3) mikrofone, bila ruangan cukup besar, atau bila umat cukup banyak

5) Bagaimana langkah-langkah untuk menyiapkan pembacaan?
(1) menemukan teks yang ditentukan 
(2) membaca keseluruhan secara lancar – sebaiknya dilafalkan dan tidak hanya dalam hati
(3) mengenali jenis teks – kisah, dialog, kotbah dsb. agar bisa menentukan gaya pembacaan 
(4) menemukan inti bacaan – biasanya sudah ditunjuk oleh kutipan bercetak miring 
(5) menemukan bagian-bagian yang merupakan satu kesatuan gagasan
(6) memberi tanda khusus pada akhir alinea, akhir kalimat, koma, jeda serta tempat pernafasan, atau pada kata-kata yang perlu diberi tekanan khusus. Tentu saja tidak dibenarkan mencoret-coret buku misa, maka bila belum ada teks khusus, baik kalau duusahakan sendiri.
(7) membaca kembali secara utuh sambil mengatur ritme.

6) Apa saja yang harus diperhatikan dalam praktek pembacaan?
(1) kelancaran membaca, ini bisa dipersiapkan dengan membaca dan melafalkan bacaan secara berulang-ulang 
(2) kejelasan artikulasi, ini sangat dipengaruhi oleh cara kita membuka mulut, 
(3) frashering atau jeda pernafasan, ini bisa dibangun dengan mencari penggalan yang tepat dan kemudian memberi tanda 
(4) aksentuasi atau pemberian tekanan, dapat dilakukan setelah kita menemukan bagian yang penting yang perlu dipertajam, 
(5) tempo atau kecepatan baca, harus diukur agar membantu pendengar dan membantu pembacaan kita sendiri, 
(6) irama, mesti disesuaikan terutama dengan bentuk kalimat – kalimat berita, kalimat seru, kalimat tanya dsb. 
(7) volume atau keras lemah suara, menyesuaikan dengan luas ruangan dan jumlah pendengar; sekarang kita banyak dibantu dengan sound system yang menuntut kita untuk bisa memanfaatkannya sebaik mungkin, 
(8) komunikasi dengan pendengar, diperlukan karena peran kita adalah membacakan dan bukan sekedar membaca untuk diri sendiri, ini bisa mencakup arah hadap, jangkauan pandangan dan kontak mata 
(9) gerak-gerik dan penampilan yang mendukung kewibawaan sabda Tuhan yang kita bawakan, kita tidak tampil untuk membawakan diri sendiri. Perlu dicermati cara kita berjalan, berlutut, berdiri, memandang, berpakaian, bermake-up dsb. 

7) Adakah tugas lain selain membacakan kitab suci?
Di paroki kita, lektor biasanya juga bertugas memberikan sambutan pembukaan, pengantar tema, membacakan doa umat dan membacakan pengumuman. Untuk pengantar tema dan doa umat, sudah tersedia dalam buku misa (kecuali kalau berbahasa Jawa harus menterjemahkan atau membuat sendiri). 

c. Spiritualitas
• Dari sekian banyak petugas liturgi, agaknya hanya dua saja yang pernah dilakukan oleh Yesus yaitu menjadi imam (dalam perjamuan malam terakhir) dan menjadi lektor (dalam ibadat di Nasaret, Luk 4, 16 – 21). Oleh karena itu kita bisa mengambil inspirasi dari apa yang dilakukan Yesus sendiri ketika menjadi lector, yaitu dalam Luk 4: 16 – 21 (silahkan dibaca…terus disharingkan dalam kelompok)

• Panduan Refleksi:
(1) Kira-kira bagaimana Yesus membacakan bagian kitab suci tadi (penampilannya, nada suaranya, dsb) sehingga dikatakan “mata semua orang tertuju padaNya” ?
(2) Bagaimana hubungan antara Yesus sebagai lektor dengan ayat-ayat kitab suci yang dibacakanNya? 
(3) Dari ayat 18 kita melihat bahwa Yesus dalam menjalankan tugasnya memiliki keyakinan bahwa dirinya dipilih, dipercaya dan diurapi oleh Roh Tuhan untuk menyampaikan kabar baik. 
a. Perasaan apa yang menyertai kita saat membacakan sabda Tuhan? 
b. Keyakinan apa yang kita pegang untuk melaksanakan peran ini?
(4) Dari seluruh teks tersebut, peran apa saja yang kiranya dituntut dari seorang lektor?



ANAK TERLIBAT - ANAK HEBAT

Anak merupakan anugrah Tuhan yang patut kita syukuri dan kita pelihara. Seperti kita ketahui, masa kanak-kanak merupakan masa paling awal dalam pekembangan pribadi seorang manusia, baik perkembangan fisik, jiwa dan tentu saja perkembangan iman. Anak-anak pada zaman ini tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi yang membawa banyak pengaruh terhadap penghayatan hidup beriman. Oleh karena itu, Gereja Katolik secara khusus ingin membina iman anak sejak dini dalam suatu wadah yang dikenal dengan istilah PIA atau Pendampingan Iman Anak.
Gereja Katolik memiliki empat bidang kegiatan yang dapat menjadi tanda dan sarana keterlibatan umat untuk pengembangan Gereja yaitu bidang kemsyarakatan, pewartaan, liturgi dan peribadatan serta paguyuban dan tata organisasi. Lalu, PIA masuk bidang yang mana? Ternyata usut punya usut, PIA termasuk dalam kelompok kategorial yang merupakan wujud dari pengembangan gereja. Meskipun selama ini di beberapa paroki, termasuk di paroki kita, PIA termasuk dalam bidang pewartaan.
Dalam perkembangannya kegiatan PIA lebih dikenal dengan istilah Sekolah Minggu. Hal itu disebabkan kegiatan PIA dilaksanakan pada hari Minggu dan di kebanyakan gereja model kegiatannya seperti sekolah, yaitu pendamping memberikan materi kepada anak-anak. Pertanyaannya, apakah kegiatan-kegiatan yang selama ini berjalan di PIA telah cukup membina iman anak-anak kita?? Jawabannya, belum tentu. Ternyata banyak masalah-masalah yang muncul dalam pendampingan iman anak. Istilah ”Sekolah Minggu” adalah salah satu masalahnya. Selama enam hari anak ’kan udah sekolah, masak hari Minggu sekolah juga? Hal tersebut secara tidak langsung sudah membebani anak-anak kita. Masalah lain yang sering dihadapi oleh para pendamping PIA adalah anak-anak yang asyik sendiri selama kegiatan PIA, misalnya jalan kesana-kemari, maen-maen sendiri ataupun asyik dengan kegiatannya sendiri. Yach, wajarlah namanya juga anak. Selain itu, materi yang diberikan membosankan sehingga anak lebih suka maen sendiri. Lalu.....,bagaimana solusinya??
Membina iman anak sebenarnya dapat dilakukan dengan sederhana. Dalam hal ini perlu diingat bahwa pendamping iman anak yang utama dan terutama adalah orang tua. Orang tua dapat membina iman anak sejak kecil dengan mengajak anak berdoa bersama dalam keluarga, membaca kitab suci dan mengajak anak untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Selama ini yang terjadi di beberapa Paroki, orang tua mengikuti perayaan Ekaristi Minggu pagi, sementara anak mengikuti kegiatan PIA. Anak-anak baru diajak masuk ke dalam gereja untuk menerima ”KOMUNI BATHUK”. Hal ini merupakan kesalahan besar. Sudah semestinya anak dibiasakan mengikuti perayaan Ekaristi dari awal hingga akhir. Bukankah Tuhan Yesus bersabda ”Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Markus 10:14). Ga’ masalah jika di dalam gereja anak ribut sendiri, jalan kesana-kemari. Namanya juga anak, yang penting adalah keteladanan dari orang tua dalam mengikuti perayaan Ekaristi. Diharapkan dengan terbiasa mengikuti Perayaan Ekaristi, anak-anak mendapatkan buah-buah kebaikan dalam kehidupannya.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk membina iman anak adalah dengan melibatkan anak dalam kegiatan lingkungan. Apalagi pada bulan Mei ini, paroki kita mulai menerapkan Gereja Berbasis Lingkungan. Jadi, biarkan anak ikut terlibat dalam lingkungan. Contohnya, kalau ada ibadat di Lingkungan, libatkan anak untuk membaca kitab suci atau membaca doa. Kalau ada umat lingkungan yang sakit, ajak anak untuk menjenguk dan mendoakan. Mau terlibat di Paroki itu biasa. Kalau mau terlibat di lingkungan, baru LUAR BIASA. Ga’ mau terlibat sama sekali?? APA KATA DUNIA????
Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk membina iman anak, misalnya dengan membacakan kisah orang-orang Kudus, mengajak anak untuk mau berbagi dengan sesama, maupun dengan banyak cara yang lain. Namun, apalah artinya semuanya itu tanpa kerjasama yang baik antara orang tua selaku pendamping utama iman anak, para umat di lingkungan dan paroki serta para pendamping PIA. Marilah kita semua semakin melibatkan anak-anak kita dalam kehidupan beriman Kristiani baik dalam lingkungan keluarga, gereja maupun masyarakat supaya anak-anak kita semakin hebat tidak hanya dari segi fisik maupun kecerdasan, tetapi juga semakin hebat dalam kehidupan imannya sehingga gereja pun semakin berkembang dalam tugasnya untuk memberitakan Injil Yesus. Amin. (Deena).